Palangka Raya – Upaya mendorong kemandirian ekonomi warga binaan terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya menggelar pembukaan Pelatihan Pemasaran Hasil Karya Warga Binaan melalui Platform Digital bagi petugas dan warga binaan se-Kalimantan Tengah, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lapas Perempuan Palangka Raya tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Tengah, para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Kota Palangka Raya, serta petugas dan warga binaan yang mengikuti pelatihan.
Pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi proyek perubahan yang diinisiasi melalui gagasan Transformasi Ekosistem Pemasaran Hasil Karya Warga Binaan melalui Kolaborasi Digital dan Kemitraan Strategis Menuju Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan. Inisiatif tersebut diarahkan untuk membangun sistem pemasaran yang lebih luas dan berkesinambungan, sehingga hasil karya warga binaan memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, menegaskan pentingnya membangun ekosistem pemasaran yang tidak hanya berorientasi pada proses produksi, tetapi juga mencakup promosi, perluasan pasar, dan keberlanjutan usaha. Menurutnya, kolaborasi digital yang didukung kemitraan strategis menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan nilai ekonomi produk sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan.
Dalam sambutannya, Kalapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo menyampaikan “Kami ingin hasil karya warga binaan tidak hanya menjadi produk pelatihan, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan secara berkelanjutan. Dengan KODIKARYA dalam pemanfaatan platform digital dan dukungan mitra strategis, petugas maupun warga binaan dapat meningkatkan keterampilan, produktivitas, serta mempersiapkan diri untuk mandiri secara ekonomi setelah kembali ke masyarakat”.
Pemanfaatan platform digital, termasuk media sosial dan marketplace, dinilai dapat membuka akses pemasaran yang lebih luas dibandingkan dengan metode konvensional. Melalui strategi promosi yang tepat, produk hasil karya warga binaan diharapkan mampu menjangkau calon konsumen yang lebih beragam, meningkatkan daya saing, serta memiliki nilai jual yang lebih baik.
Dukungan terhadap inovasi tersebut juga disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, Hensah. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai sarana untuk memperluas pasar dan meningkatkan kualitas daya saing produk warga binaan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, Hensah, dalam arahannya menyampaikan ““Kami mendukung langkah inovatif ini, pemanfaatan teknologi digital harus menjadi peluang untuk memperluas jangkauan pemasaran hingga meningkatkan daya saing produk”.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Tengah, Rahmawati, turut menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung pemasaran digital. Pengetahuan dan keterampilan praktis menjadi bekal penting bagi petugas maupun warga binaan agar dapat memanfaatkan berbagai saluran pemasaran secara efektif.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Tengah, Rahmawati, menyampaikan ““Kami berharap pelatihan ini dapat membekali petugas dan warga binaan dengan pengetahuan praktis mengenai pemasaran digital sehingga produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan peluang berkembang sesuai dengan program KODIKARYA”.
Melalui pelatihan ini, petugas diharapkan semakin optimal dalam mendampingi warga binaan mengembangkan dan memasarkan produknya. Di sisi lain, warga binaan diharapkan mampu meningkatkan kreativitas, produktivitas, serta keterampilan kewirausahaan sebagai bekal untuk membangun kehidupan yang mandiri setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Pelaksanaan KODIKARYA diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem pemasaran hasil karya warga binaan yang terintegrasi melalui kolaborasi digital dan kemitraan strategis. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya menghasilkan keterampilan, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi warga binaan ketika kembali berbaur dengan masyarakat.
